eh,eh......mo tau gak tempat beli buku stengah harga en komik yang jauh murahnya dibanding elo kudu ke gramed?jawabannya adalah...
Mun u 2 lg jalan ke pasar lemabang.kan ado jalur nak naek mobil ijo..nah dari belokan itu...ada sebuah emperan toko kecil..eits jangan salah..walau kecil...tapi isisnya keren abis!!mo bku jadul?ato buku sekarang tapi dak bisa dapet..isnyaallah,kakak2 disana dapat menolong kita wat nyariinnnya...mo coba???
sebuah sekolah megah dengan beberapa jurusan..bergaya eropa dengan ukiran Romawi kuno..bangunan putih ini sebentar lagi akan menjadi sekolah baruku...aku menggerek koperku di tengah kerumunan orang yang mencari asrama mereka..
aku juga berada diantara mreka...terus berjalan sekitar 100 kilometer dari gedung sekolah kami...pada akhirnya menemukan sebuah gedung layaknya apartemen besar bergaya senada sekolah ini...aku sepat heran karena sekolah ini salah satu sekolah swasta termurah hati di kotaku..tapi kini aku mengerti..sekolah besar seperti ini dengan bayaran murah layaknya sekolah negeri biasa..aku juga sempat mendengar itu karena sekolah ini lebih mengutamakan keahlian..maka dari itu sekolah inilah yang ku pilih..aku bisa mencari sebenarnya apa aku ini..terlepas aku harus berpura-pura lagi di depan semuanya..kami semua masuk ke dalam ruangan itu..dan di dalamnya, seorang wanita berpostur model dengan rambut pendek memegang pedang bambu di bahunya.dia kemudian tersenyum sambil memegang sebuah guci transparan berisi kertas. "Selamat datang ke smu 1412!!nah,gue kepala asrama satu sekaligus ketua klub J.T.A!panggil aja aku sasa!ok?" "Ya!!"kompak anak- anak yang bersamaku berteriak dengan semangat,melihat kakak itu begitu berapi-api menyambut mereka.aku merasa kali ini aku salah masuk pintu asrama..karena hanya aku yang membawa biola di antara anak-anak lainnya. "Nah,sekarang penentuan kamar kalian!!silahkan ambil nomor di guci ini!!bagi yang mendapat nomor yang sama,maka itulah teman satu kamar Loe!!dan nggak ada istilah pndah kamar,karena kita semua sama!!setuju??!" "Osh!!"mereka lalu maju satu per satu mengambil nomor di gelas itu.tapi di saat aku maju,kak sasa seperti menatapku dengan tajam. "Loe..nggak salah masuk asrama?"hardiknya sambil tertawa kecil. "Hah?maaf kak,apanya yang salah?" "Nggak, disini itu asrama buat kegiatan fisik,asrama bagi pemusik itu asrama dua sana!" "Emangnya di asrama satu gak boleh bawa biola kak?" "Nggak sih,soalnya asrama sini kan kebanyakan anaknya ikut ekskul olahraga sama kegiatan fisik..kalo mau main musik yah..di asrama dua.." "Oh..kalo gitu gue boleh disini kan,kak?" "terserahlah..tapi,kalau kamu bisa"kakak itu dalam sekejap menyerangku.tapi aku bisa menghindarinya secepat kilat karena sejak kecil sebelum menjadi Dina,aku menguasai beberapa cabang olahraga,sehingga tubuhku tak selemah Dina dan sangt refleks. "Loe diterima!!"ujar kak sasa sambil tersenyum.aku tersenyum puas dan mengambil nomor kamarku..aku membuka kertas putih itu dan membaca nomornya dalam hati.. "16.." "Oey!bagi yang udah kedapetan nomor langsung aja ke kamarnya ya!disana udah tersedia penjelasan sekilas sekolah ini..kalo mo tanya lebih lanjut,kamar gue nomor 19,yang paling ujung di ebelah jendela,Ok?" aku mengangguk perlahan dan pergi ke kamarku.
Uwhh..untuk cerita pursuing y true selfnya...absen dulu yah...soalnya..3 minggu ini bakalan prepare wat simak...mohon doa nya yah...amin...
jadi intinya...bahas dulu satu novel 3 tahun ku ini...my day....ada yang punya ide buat judulnya??soalnya...aku parh kalau soal mikirin judul..mohon bantuannya..soalnya aku kepikiran buat publishin nih novel..gimana??
“Huh..di tempat yang semudah ini , mereka sampai berani memakai namaku ? benar- benar memalukan..”Rena tersenyum simpul. Dia mengambil ‘Morning star’ itu dan berjalan perlahan,menikmati pemandangan indah hutan bermandikan cahaya itu.
“sesuai dengan namanya, morning star adalah permata tangisan Helel yang jatuh beriring sinar bulan di malam hari..tempat ini pun adalah tempat jatuhnya air mata Helel.tempat yang bermandikan cahaya bulan..beruntung aku bisa melihatnya malam ini..”
“Ya, karena ini adalah malam terakhir kau berkeliaran sebagai seorang pencuri..Rena” Rena terkejut dan menoleh ke asal suara. Di tempat itu, Yo berdiri menhadapnya sambil menodongkan pistol kepadanya.
“Hoo..kali ini, kau berani menembakku?”sorot mata Rena penuh tantangan pada Yo. Rena yakin di dalam hati, Yo takkan bisa menembaknya. Tapi kali ini, Rena salah.tembakan pertama sudah di keluarkan Yo, suara letusan besar itu menggema ke penjuru hutan di Bantu semilir angin padang ilalang cahaya tempat mereka kini berdiri. Peluru itu menembus salah satu pohon yang berada di samping Rena.
“Kini aku serius Rena.aku takkan membiarkan kau terus-terusan menjadi pencuri begini..Kembalikan morning star itu atau aku akan menembakmu.”ancaman Yo benar-benar serius. Sejenak kata itu melegakan hati Rena,karena akhirnya dia pun bisa benar-benar berhadapan edngan Yo sebagai musuh.karena tingkah Yo selama ini selalu membuat dadanya sesak dan menghambat langkahnya menuju kebenaran.Rena memang tak memiliki waktu.karena apapun yang terjadi,kebenaran itu harus dia temukan.sekalipun dia harus di benci oleh semua orang di dunia, tanpa terkecuali orang yang paling di cintainya.cahaya remang kunang-kunang itu menjadi saksi bisu,ditemani sinar hangat bulan itu secara beruntun Yo terus menembak Rena.
“Jika kau menyuruh aku untuk menyerah kepadamu, itu sama artinya dengan kau membunuhku. Air mata Helel ini milikku , dan takkan ku serahkan pada budak yang bertopeng kebenaran palsu sepertimu!”Teriak rena berimbang suara letusan peluru yang mengincar dirinya.
“ Apa maksudmu Rena! Kenapa kau melakukan hal nekat begini ?! sebenarnya apa yang kau cari?!”
“Aku mencari sebuah kebenaran..seperti apa yang ku sabdakan pada polisi polisi bodoh itu, aku mencari kebenaran!!kau..dan mereka,hanya berpegang pada keyakinan kalian akan kebenaran dan menghalangi jalanku!!padahal, kalian itu,tak pernah tau apa-apa!!”
“Kebenaran ? kebenaran apa yang kau dapatkan dengan perbuatan hina seperti ini!!”
“Jangan kau menyebut caraku adalah cara yang hina!!aku tahu aku adalah seorang pendosa..tapi kebenaran yang aku cari itu kebenaran yang tak terlihat dari mata sok adil seperti kalian!!”Peluru Yo habis. Di saat perhatian Yo teralih karena mengisi pelurunya kembali, dengan cepat Rena mendekati Yo.semua terjadi begitu cepat.rena kini berada dalamjarak sangat dekat dengan Yo sambil menodongkan pistolnya di dagu Yo.desah napas rena terdengar jelas di telinga Yo.Yo tak dapat bergerak karena Rena memeluknya erat dari belakang sambil mengarahkan pistol padanya. Sementara tangan kiri Yoberada tepat disamping kepala rena,memegang pistol dan siap untuk menembaknya.
“Jika kau menghalangi jalanku,maka aku takkan segan menembakmu.”
“aku pun takkan ragu menembakmu..Rena..”
“oh,ya?coba..tembak aku..karena selamanya aku takkan menyerahkan diriku pada kalian.”Yo bersiap-siap menekan pelatuknya,tapi pelatuk itu telah terkunci.
“kau,bagaimana bisa!”
“selama hatimu ragu,selama itu pula kau takkan melihat celah pada diriku yang sesungguhnya.aku harus pergi.selamat tinggal,Yo..”Rena menekan pelatuknya.dalam sekejap, peluru bius itu tertancap di leher Yo.dia mengerang kesakitan dan limbung.Rena menopang tubuh Yo.
“Rena..jangan lari..lagi”
“Aku takkan lari Yo..aku sudah berhenti berlari..dari takdirku sendiri..”
Perapian hangat malam itu tak berhasil mengusir rasa sedih yang tersimpan jauh di dalam hati sang ayah.sambil memegang secangkir kopi hangat , dia menatapi foto istrinya yang dia anggap telah meninggal. Dia benar-benar menyadari seluruh kesalahannya. Dia benar tak menyangka , bahwa ibu yang dia cintai itu adalah penyebab segalanya.
‘kenapa aku dulu begitu mematuhi perintah wanita itu ? kenapa aku tak menyadari sedetik pun bahwa ibuku lah yang menyebabkan kecelakaan Misa dan hampir membunuh Rena , cucunya sendiri ?ah, sudahlah..ayah pastilah orang yang paling sedih dan bersalah soal itu.’ Pikirnya sambil menatap bisu foto mendiang istrinya itu.
“Misa..sebentar lagi, kau pasti akan bertemu kembali dengan Rena..anak kita..dia sudah begitu besar..dan memikul beban yang tak terkira beratnya…andai aku bukan seorang pria lemah seperti ini..andai aku bisa membuka mataku lebih lebar lagi setelah kematianmu…Rena takkan bernasib seperti itu..” kata-kata itu boleh diu capkan dengan ekspresi dingin..tapi memiliki makna begitu dalam bagi ayah Rena. Penyesalan tak terhingga..disaat terakhir..dia benar-benar bertatap mata dengan anaknya itu adalah saat Rena menatapnya penuh kebencian atas perlakuannya terhadap orang yang telah membangkitkan kekuatan Rena..
“”Seharusnya ayah berterimakasih pada mereka semua!karena merekalah,orang yang telah membangkitkan darahku!!membangkitkan bakatku sebagai seorang pencuri!!”” kata terakhir terucap penuh amarah sempat membuat hatinya bergejolak. Rena selama ini sudah salah paham. Sebenarnya, Ayahnya tak pernah menginginkan kebangkitan Rena..dia tak mau Rena menderita seperti dirinya..sejak kecil ,karena memiliki mata itu saja Rena sudah menjadi bahan gunjingan seluruh keluarganya.tapi dia tak dapat melakukan apa-apa selain diam membisu di kursi itu. Dia menyesal..karena tak dapat melakukan sesuatu yang berguna sekalipun bagi anaknya..bagi anak yang memiliki nasib yang sama dengannya.
“Misa..kumohon jaga Rena baik-baik disana..dia terlalu banyak menderitabersamaku..aku tahu karena kau adalah orang baik yang menerimaku..apa adanya.”
“Rey…”suara samar-samar di perapian itu membuat sang ayah terperanjat.dia berbalik ke arah suara itu penuh tak percaya. Saat melihat sosok Emma berdiri di belakangnya sambil tersenyum, dia terlihat mendesah.
“Ah, Emma..aku pikir..”
“Ini aku Rey..”Emmamemegangi pipinya dan mencubitnya.dia melepas topeng yang selama 13 tahun lamanya. Ayah Rena tak kalah terkejutnya melihat pemandangan itu. Di balik mata hijaunya , dia kembali melihat sosok yang selama ini di pandanginya lewat kursi perapian.
“Mi…sa” seorang wanita berparas cantik dengan rambut hitam panjang dan mata hitam kecoklatan berkilat-kilat memandanginya sambil tersenyum.
“Ke..kenapa?”
“Maafkan aku Rey..selama 13 tahun aku menjadi Emma..dihari kecelakaan itu, aku diselamatkan oleh seseorang..aku menyadari bahwa ibu mertua lah yang mensabotase mobilku karena aku menemukan unhappy maiden , kunci dari kebenaran masa lalu keluarga ini..aku sadar…nyawaku akan terancam jika aku kembali ke rumah ini..setiap hari aku mengunjungi rumah ini sembunyi-sembunyi..di hari pemakaman ku…aku melihat ibu mertua memperlakukan Luna dengan baik,tapi sebaliknya dengan Rena..oleh karena itu, aku bertekad untuk menyamar dan kembali ke rumah ini..aku tak bisa membiarkan Rena sendirian..walau pada akhirnya, aku juga di kalahkan oleh seorang pria yang benar-benar mengerti Rena..Rey”
“Pria? Maksudmu..anak berkacamata yang membawa tubuh Rena kemari?dia itu..seorasng polisi kan?”
“Ya..dia orang yang dicintai Rena..sekaligus orang yang mencintai Rena lebih dari siapapun..dia menjadi polisi untuk melindungi Rena..naif bukan?”
“sekarang anak itu?”ujar Rey penasaran menatap Misa yang menggelengkan kepala dengan sedih.
“Anak itu..telah pergi menyusul Rena..”Rey terperanjat.dia menatap Misa lama seolah takpercaya dengan perkataannya. Walau dia tahu, Misa tak pernah berbohong padanya.
“Misa..kemarilah..”Misa mendekat.Rey memeluknya tiba-tiba dengan erat.seolah tak ingin melepaskannya untuk kedua kali.
“kau benar-benar jahat..Misa…tapi, aku tak bisa membencimu…maka,berjanjilah takkan pergi lagi dariku..”
“Oh ya, Rey..kau tak perlu merasa bersalah lagi pada Rena..aku tahu..dia sudah berbahagia bersama orang yang dicintainya sejak dulu..ketahuilah Rey, Rena tak pernah membencimu..karena walau bagaimanapun, kau tetaplah seorang ayah baginya..”
“jika begitu adanya..maka akulah ayah yang paling berbahagia di dunia ini..”perapian hangat itu kembali menghangatkan suasana rumah yang telah mendingin sekian lamanya.dua orang yang merasa jauh padahal jarak mereka sangatlah dekat..akhirnya dipertemukan kembali..yang ada kini..mereka berpegangan erat agar takkan terlepas lagi satu sama lain..
“ Semua bisa kuatasi..ya..senyum ini..wajah ini..biar pun di dalam tak serupa..aku akan berusaha..agar keberadaanku ini nyata..”
Langit subuh menjelang terbitnya sang surya terlihat indah..biru indigo yang sedih karena berpisah dengan sang malam..tapi seolah tersenyum lembut menyapa surya dengan kehangatannya menyinari dunia..begitu pun seharusnya perasaanku pagi ini..malam kemarin aku tak dapat tidur,menyiapkan seluruh perlengkapanku ..untuk pergi jauh-jauh dari kehangatan palsu berkedok rumah ini..lima belas tahun sudah sejak kematian din a, saudaraku..aku terus hidup memakai namanya..terus tersenyum..terus berusaha seperti orang bodoh saja..agar mereka mengakui keberadaanku..tak terasa semua berjalan..waktu memang mengerikan..aku berhenti menatap langit dan melewati beranda ku,masuk ke dalam kamar ku..sebuah koper besar biru dan sebuah tas biola hitam tertata rapi di samping tempat tidurku.aku duduk di atas ranjangku sambil tersenyum..aku membungkuk dan mangambil selembar foto usang di bawah tempat tidurku..fotoku bersama Dina dulu..tak terasa sudah,memang..jika ingin ku ulas balik semua usaha yang ku lakukan..dalam hati aku sangat ingin seseorang datang dan menamparku keras-keras..agar aku terbangun dari mimpi indah,tapi bukan untukku.tapi sayang,tak seorang pun yang melakukan itu padaku..dan kini,aku disini,semakin terjebak dalam janji yang terucap di hari itu..lima belas tahun lalu di depan makam saudara kembar tersayangku.aku membuka kamarku sambil menyeret koper seraya menenteng tas biolaku.semilir bau harum merangsang perutku untuk berbunyi,menyuruhku segera menyantapnya..aroma masakan ibu memang menggoda..tapi apalah artinya jika masakan itu tak pernah dibuat untukku..bagiku,serasa menelan duri berkedok madu..aku berhenti di ujung tangga dan menengok ke bawah. Seorang wanita tua tersenyum sambil mencium harumnya masakan yang ia buat,membuat hatiku tersayat lagi.senyum wanita itu bukan untukku..tapi untuk orang yang berwajah sama denganku..tapi,jika ini tak ku lakukan..mungkin aku takkan melihat senyuman itu selamanya.aku berhenti memandanginya dan turun ke bawah.
“Mama!baunya harum nih!mama masak shoufle kentang lagi ya..mmm,pasti enak!”
“Aduh Dina..kamu itu..kalo makanan aja…iya,cepet makan ya..tar telat masuk..kan ini hari pertama kamu masuk sma..”
“ma..papa mana?”
“Oh..mungkin lagi olahraga pagi?udah..pokoknya anak mama makan dulu..nanti laper disana..”
“Iya ma..”
Aku berusaha mengunyah dan menelan makanan itu setengah mati.tapi aku selalu menunjukkan senyumanku pada mama,agar dia tak merasa ada yang aneh denganku.selama lima belas tahun, aku mencicipi masakan yang mau membuatku muntah ini..memang,Dina tak punya penyakit ini..tapi aku,memiliki anaphylaxie shock, sejenis alergi pada laktosa yang terkandung dalam susu sapi, salah satu bahan pembentuk shoufle kentang favorit Dina itu..biasanya setelah ini aku akan memuntahkannya,jika tidak aku harus kuat-kuat bertahan dari sesak napasku..menyedihkan memang,tapi inilah kenyataannya..jika mereka bilang anak kembar itu ‘benar-benar sama’,maka bisa ku jawab dengan lantang,mereka sepenuhnya salah.
“Din..kamu bener bener mau masuk sma itu?”
“Iya ma..sma itu bagus ma..lagian juga,Dina juga bisa belajar mandiri disana..tapi,Dina janji dina bakal mengunjungi mama setiap minggunya..”
“tapi din..”
“Ma..Dina dari dulu kan udah bercita-cita masuk ke sana..dari sana,mungkin Dina berpeluang besar untuk masuk ke fakultas hukum Harvard..mama seneng kan,kalo Dina seneng?”
“Iya deh..untuk kamu,mama pasti seneng..”aku tak kuat lagi..kakiku lemas dan bergetar..’mama seneng jika kamu seneng’..kata itu hanya untuk Dina..kasih sayang itu memang untuk Dina..bukan untukku..
“Oh ya..Dina berangkat ya ma..dah mama”aku mencium tangan mamaku yang lembut dan wangi vanilla yang tercium darinya.
“hati-hati ya Din..”
“iya ma..”aku menarik barang bawaanku dan secepatnya pergi.di pintu luar ternyata ayah sudah menungguku.
“Loh,pa..kata mama tadi papa lagi olahraga..”
“Papa mau mengantarmu ke sekolah..”
Tanpa banyak bicara aku menaiki mobil, dan pergi..sepanjang perjalanan,seperti biasa keheningan menjalar..aku sibuk memperhatikan jalan yang macet di kala pagi,polusi dari bus kota dan ibu-ibu yang membawa tas belanja mewarnai tiap harinya.
“Dina..”
“ya pa?”ayahku hanya terdiam.aku merasa bahwa hari ini,dia cukup tengang,entah apa alasannya.tapi setidaknya,aku begitu menghormati ayahku.sosok seorang pengacara tegas dan tegas,tak banyak bicara,tapi bisa dimengerti orang..ayah juga,satu-satunya orang yang tak pernah membagi kasih sayang dengan tak adil pada kami berdua..
“tak terasa sudah lima belas tahun kamu hidup sebagai Dina..”aku terkejut.baru kali ini ayah berbicara begitu..setelah lima belas tahun,akhirnya kata itu baru terucap?
“Pa..sekolah Dina udah deket..”
“Sampai kapan kamu akan terus hidup sebagai Dina ?”
“Pa..udah sampai..”
“Kina!”
“Ayah..jika ayah Tanya sampai kapan, Kina pikir ayah sudah tahu persis apa jawabannya,bukan?”
“Kina..ayah mengerti..kamu melakukan semua ini demi kami semua..tapi..”
“Ayah..Kina akan melakukan apa yang menjadi keputusan Kina..ayah tak perlu khawatir,karena Kina sudah terbiasa.”
“Lakukanlah Kina..jika itu benar-benar yang ingin kamu lakukan..tapi,asal Kina tahu..ayah selalu ada saat Kina membutuhkan.”
aku tersenyum sambil memeluk erat ayahku.walau haru, tapi air mataku sudah tak dapat keluar lagi,bersama umpatan dalam hati, andai saja,kata-kata ini terucap lima belas tahun lalu..maka aku takkan begitu sedih seperti sekarang.
aku membuka pintu mobil setelah mencium tangan ayahku.mengambil barang-barang,lalu berjalan menapaki gerbang besar SMU 1412,smu swasta terbesar sekaligus terpandang,yang tak perduli dengan status para muridnya,melainkan mementingkan kemampuan khusus yang mereka punya.umntung saja,aku memiliki bakat Dina setelah berusaha keras menirunya,bermain biola,manyanyi,berakting,selain kemampuan akademisnya.aku tersenyum setelah melewati gerbang ini,lega…kepalsuan diriku berakhir disini..aku ingin menjalani kehidupan sma ini..sebagai Kina, walau orang akan memanggilku dengan nama saudara kembarku,tapi aku akan berusaha..agar aku bisa mencari siapa aku..diri yang sudah ku buang jauh-jauh selama lima belas tahun…kini akan ku temui lagi..walau itu mustahil nantinya…..
aku memang sesosok yang naïf,aku yakin apa yang aku lakukan akan membuat mereka bahgia..meski diri ini tersiksa sekalipun..menyedihkan memang..tapi,kini aku akan mengejar..diriku yang sudah kubuang sekian lamanya….akankah aku bisa ?atau selamnya,memang ku di takdirkan menjadi sosok saudara kembarku..??